Bukan Sekadar Perang Dunia: 5 Peringatan Keras Dharma Pongrekun Tentang 'Sistem' yang Mengontrol Kita
Di tengah ketidakpastian global yang semakin terasa, nama Dharma Pongrekun muncul mengguncang ruang publik dengan serangkaian peringatan keras. Pernyataannya tentang potensi "mati listrik 7 hari" atau ketidaksiapan Indonesia menghadapi Perang Dunia III viral, memicu kepanikan sekaligus perdebatan sengit.
Namun, fokus pada sensasi prediksi tersebut berarti kehilangan substansi pesannya yang jauh lebih fundamental. Inilah diagnosis tajam dari Pongrekun: krisis eksternal seperti perang atau pandemi bukanlah musuh utama. Ancaman sesungguhnya adalah "sistem" tak terlihat yang telah dirancang untuk menjerat jiwa (jiwa) manusia, mengontrol cara kita hidup, bekerja, dan berpikir. Artikel ini akan menelanjangi lima gagasan paling menantang dari Dharma Pongrekun tentang bagaimana sistem ini bekerja untuk memenjarakan kita dari dalam.
--------------------------------------------------------------------------------
1. Kepanikan Bukanlah Masalahnya, Ketergantungan adalah Penjaranya
Menurut Dharma Pongrekun, kepanikan publik yang timbul dari peringatannya bukanlah masalah, melainkan sebuah gejala. Gejala dari penyakit yang lebih dalam: rapuhnya kemandirian. Ketika masyarakat panik hanya karena bayangan hidup tanpa listrik, itu menelanjangi betapa totalnya mereka telah menyerahkan kedaulatan hidup pada fasilitas eksternal.
Kondisi ini, ia menegaskan, bukanlah kebetulan. Ini adalah hasil rekayasa sebuah sistem yang sengaja menciptakan ketergantungan sebagai alat kontrol utama. Bagi Pongrekun, ketergantungan adalah kunci untuk mengendalikan manusia pada level terdalam. Sebab, manusia yang bergantung adalah manusia yang jiwanya takut dan menciut. Jiwa yang takut inilah yang pada akhirnya menghasilkan individu yang mudah diarahkan dan dikendalikan.
"kenapa mereka tidak siap karena selama ini seperti kerbau yang dicucuk hidungnya masuk dalam perangkap ketergantungan. ketergantungan adalah kunci mengontrol manusia."
--------------------------------------------------------------------------------
2. Sistem Pendidikan Dirancang untuk Mencetak 'Pekerja', Bukan 'Pemikir'
Salah satu pilar utama dari "sistem" yang ditelanjangi Dharma adalah dunia pendidikan modern. Ia berpendapat bahwa institusi sekolah saat ini, sejak tingkat dasar, tidak dirancang untuk melahirkan generasi pemikir kritis. Sebaliknya, tujuannya adalah untuk mencetak tenaga kerja yang patuh dan seragam—sebuah bangsa pekerja, bukan bangsa pemikir.
Dharma secara spesifik mengklaim konsep ini berasal dari visi Rockefeller Foundation. Dengan menstandarisasi kurikulum, sistem ini secara efektif memproduksi "manusia-mesin" yang pola pikirnya seragam dan siap bekerja sesuai instruksi. Peringatan kerasnya adalah: di era kecerdasan buatan (AI), manusia-mesin ini adalah yang pertama akan digantikan. Sistem ini bertujuan mematikan jiwa—satu-satunya elemen yang tidak bisa direplikasi oleh AI—dengan melakukan "shutdown your soul to engineering mindset".
"persoalannya sejak kita sekolah kita digiring oleh konsep yang dibuat oleh rockefeller foundation, 'i don't want a nation of thinker, saya tidak mau bangsa yang berpikir, i want a nation of workers, saya mau bangsanya itu adalah pekerja atau budak'."
--------------------------------------------------------------------------------
3. Dunia Dijalankan oleh Skenario, Bukan Kebetulan
Inilah klaim Dharma Pongrekun yang paling provokatif: peristiwa besar global, termasuk pandemi COVID-19, bukanlah kejadian acak. Baginya, semua itu adalah bagian dari "skenario" yang dirancang oleh segelintir kelompok "elit global" atau "secret society" yang beroperasi di balik layar.
Menurutnya, organisasi internasional seperti PBB (United Nations) dan WHO hanyalah operator lapangan yang dikendalikan untuk menjalankan agenda besar. Sebagai bukti, ia menunjuk fakta bahwa PBB hanya memiliki seorang "Sekretaris Jenderal" (Sekjen), bukan seorang "Chief". Baginya, ini adalah penanda bahwa PBB hanyalah pencatat agenda untuk kekuatan tak terlihat yang lebih tinggi. Ia tak segan menyebut nama-nama seperti Rothschild, Rockefeller, serta raksasa investasi BlackRock dan Vanguard sebagai arsitek di balik sistem kontrol global ini.
"covid skenario siapa... who underbow-nya siapa united nation iya itu itulah makanya mereka enggak suka saya bang."
--------------------------------------------------------------------------------
4. 'Para Ahli' Digunakan untuk Merasionalisasi Rencana yang Tidak Rasional
Bagaimana sebuah agenda global yang mungkin tidak masuk akal bisa diterima oleh miliaran orang? Dharma menunjuk pada peran para "ahli" dan saintis sebagai instrumen kunci. Ia mengidentifikasi sebuah lingkaran setan: sistem pendidikan yang seragam melahirkan para ahli yang berpikir dalam kerangka yang sama. Publik, yang dikondisikan untuk percaya tanpa syarat pada "ahlinya", siap menerima apapun yang mereka katakan.
Dalam pandangan Pongrekun, sains kemudian "diperalat". Para ahli ini ditugaskan oleh elit global untuk membuat jurnal ilmiah dan landasan akademis demi satu tujuan: merasionalisasi rencana-rencana yang sebenarnya tidak rasional. "Sains" dan "jurnal akademis" menjadi alat untuk mencetak keseragaman pola pikir (alat atau tools untuk mencetak keseragaman pola pikir), memberikan stempel legitimasi pada agenda tersembunyi agar tampak logis dan tak terbantahkan.
"itulah kenapa para saintis digunakan suruh membuat jurnal untuk merasionalisasi rencana-rencana yang tidak rasional yang akan dilaksanakan di semua setiap negara itu yang dimainkan oleh global."
--------------------------------------------------------------------------------
5. Perang Sesungguhnya Adalah Melawan Pikiran 'Template'
Di tengah diagnosisnya yang kelam, Dharma menawarkan jalan keluar. Perang sesungguhnya yang harus dimenangkan bukanlah perang fisik, melainkan perang di dalam pikiran. Kunci kemerdekaan adalah dengan beralih dari sekadar menerima "apa yang harus dipikirkan" (what to think) menjadi menguasai "bagaimana cara berpikir" (how to think).
Sistem ini, menurutnya, bekerja dengan merekayasa pola pikir yang seragam atau "template". Ketika semua orang berpikir dalam kerangka yang sama, populasi menjadi mudah ditebak dan dikendalikan. Sistem ini bahkan memiliki mekanisme pertahanan sosial: ketika seseorang seperti Rocky Gerung berpikir di luar template, ia akan langsung dicap "keras" atau bahkan "gila". Oleh karena itu, langkah pertama menuju kedaulatan sejati adalah dengan berani berlatih berpikir kritis dan membebaskan diri dari penjara pikiran yang telah disediakan.
"kita terbiasa dengan apa what to think... saya mau mengajak kita how to think. hm nah itulah berpikir kritis."
--------------------------------------------------------------------------------
Conclusion
Gagasan-gagasan Dharma Pongrekun, terlepas dari pro dan kontranya, memaksa kita untuk melihat melampaui berita utama. Ia menegaskan bahwa ancaman terbesar bukanlah datang dari luar, melainkan dari sistem internal yang tanpa sadar telah kita terima—sebuah sistem yang dibangun di atas ketergantungan, menyeragamkan pemikiran, dan pada akhirnya bertujuan memenjarakan jiwa kita. Pada akhirnya, pertanyaannya bukanlah apakah kita siap menghadapi krisis, tetapi apakah kita siap untuk mulai berpikir secara mandiri?

Post a Comment for "Bukan Sekadar Perang Dunia: 5 Peringatan Keras Dharma Pongrekun Tentang 'Sistem' yang Mengontrol Kita"
Post a Comment